Aktivis Paroki Katedral Semarang
Siapa yang tak kenal Pak Miniman di Paroki Katedral - Semarang ?
Ya, beliau adalah seorang aktivis di paroki itu yang tidak kenal lelah melayani umat lainnya dengan menjadi prodiakon, katekis pengajar simpatisan yang akan baptis, pamong lingkungan, pernah juga jadi pengurus dewan paroki.
Dengan bermodalkan sepeda motor Yamaha butut tahun 1975-nya, kesana kemari memberikan sakramen ekaristi bagi orang sakit. Juga membantu pastor kalau memberikan sakramen perminyakan terakhir bagi orang yang mau meninggal.
Juga memberi kotbah di saat sembahyangan di lingkungan Lempongsari, bahkan di Wilayah Yohanes yang meliputi beberapa lingkungan.
Kerajinannya ke gereja tiap pagi menunjukkan kedekatannya pada Allah yang menginspirasi hidupnya. Sebuah teladan bagi anak-anaknya dan umat lain yang mengenalnya. Teladan yang ditunjukkan juga dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak sekedar kata tapi juga perbuatan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan setelah terkena stroke pada tahun 1989, kegiatan ini tidak ditinggalkannya. Berjalan terpincang-pincang, dari satu rumah ke rumah lainnya untuk melayani umat. Sesuai dengan hobinya, hobi atau panggilan jiwa ? Entahlah hanya beliau yang tahu.
Ya, beliau adalah seorang aktivis di paroki itu yang tidak kenal lelah melayani umat lainnya dengan menjadi prodiakon, katekis pengajar simpatisan yang akan baptis, pamong lingkungan, pernah juga jadi pengurus dewan paroki.
Dengan bermodalkan sepeda motor Yamaha butut tahun 1975-nya, kesana kemari memberikan sakramen ekaristi bagi orang sakit. Juga membantu pastor kalau memberikan sakramen perminyakan terakhir bagi orang yang mau meninggal.
Juga memberi kotbah di saat sembahyangan di lingkungan Lempongsari, bahkan di Wilayah Yohanes yang meliputi beberapa lingkungan.
Kerajinannya ke gereja tiap pagi menunjukkan kedekatannya pada Allah yang menginspirasi hidupnya. Sebuah teladan bagi anak-anaknya dan umat lain yang mengenalnya. Teladan yang ditunjukkan juga dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak sekedar kata tapi juga perbuatan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan setelah terkena stroke pada tahun 1989, kegiatan ini tidak ditinggalkannya. Berjalan terpincang-pincang, dari satu rumah ke rumah lainnya untuk melayani umat. Sesuai dengan hobinya, hobi atau panggilan jiwa ? Entahlah hanya beliau yang tahu.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home