Monday, January 22, 2007

Saat-saat Terakhir

Saat-saat terakhir dalam hidupnya adalah tahun 2000-2001. Penyakit hipertensi dan diabetes menggerogoti kegagahannya semasa muda.

Dan akhirnya Tuhan bersedia memanggil Bapak Andreas Miniman pada tanggal 31 Januari 2001, ketika semua anak-anaknya sudah pulang dan berkumpul. Sebuah kematian yang tentu saja ditangisi oleh istrinya, Sri Rahayu ( yayuk ) dan anak-anak tercintanya.

Namun ada yang istimewa dan tak disangka banyak orang. Pada saat hari penguburannya, jalanan di sepanjang Lempongsari sangat padat bahkan sampai ke jalan raya.

Aktivis Paroki Katedral Semarang

Siapa yang tak kenal Pak Miniman di Paroki Katedral - Semarang ?
Ya, beliau adalah seorang aktivis di paroki itu yang tidak kenal lelah melayani umat lainnya dengan menjadi prodiakon, katekis pengajar simpatisan yang akan baptis, pamong lingkungan, pernah juga jadi pengurus dewan paroki.

Dengan bermodalkan sepeda motor Yamaha butut tahun 1975-nya, kesana kemari memberikan sakramen ekaristi bagi orang sakit. Juga membantu pastor kalau memberikan sakramen perminyakan terakhir bagi orang yang mau meninggal.

Juga memberi kotbah di saat sembahyangan di lingkungan Lempongsari, bahkan di Wilayah Yohanes yang meliputi beberapa lingkungan.

Kerajinannya ke gereja tiap pagi menunjukkan kedekatannya pada Allah yang menginspirasi hidupnya. Sebuah teladan bagi anak-anaknya dan umat lain yang mengenalnya. Teladan yang ditunjukkan juga dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak sekedar kata tapi juga perbuatan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan setelah terkena stroke pada tahun 1989, kegiatan ini tidak ditinggalkannya. Berjalan terpincang-pincang, dari satu rumah ke rumah lainnya untuk melayani umat. Sesuai dengan hobinya, hobi atau panggilan jiwa ? Entahlah hanya beliau yang tahu.

Pengabdian di SMP Domenico Savio

Pengabdian paling lama akhirnya ditakdirkan di SMP Pangudi Luhur Domenico Savio sejak tahun 1970 sampai akhir hidupnya. menjadi guru bahasa Inggris dan guru pelajaran agama Katolik. Sekaligus menjadi pengajar katekismus, pelajaran bagi simpatisan agama Katolik sebelum dibaptis.

1967 Menikah

Pada tahun 1967 Bapak Andreas Miniman menikah dengan seorang bekas murid SMP-nya yang cantik. Gadis yang beruntung itu bernama Sri Rahayu, kelahiran Yogyakarta 23 Juli 1947, selisih 7 tahun diantara mereka tidak menjadi penghalang bahkan seakan menjadi pengesahan bahwa pilihannya sudah tepat.

Kehidupanpun beralih ke Semarang. Masih tetap menjadi guru di Kebon Dalem.

Panggilan Menjadi Guru

Guru agaknya menjadi panggilan hidup Bapak Andreas Miniman. Dimulai di kota Prembun - Kebumen Jawa Tengah. dan mendapatkan pasangan hidupnya disini.

Masa Kecil

Masa kecil dibesarkan di Klaten

Lahir

Andreas Miniman dilahirkan di Klaten, Jawa Tengah di dusun Kuwangan, desa Borongan, Kecamatan Polanharjo pada tanggal 8 Mei 1940. ( namun entah sebenarnya tanggalnya berapa, karena begitulah yang tertera pada KTP-nya semasa hidupnya )